Personal Blog Ihsan Fauzi Rahman, SH

Beranda » Uncategorized » Belajar Marketing dari Penjual Kancing di Bis Kota

Belajar Marketing dari Penjual Kancing di Bis Kota

Follow me on Twitter

Bisnis Kancing levis di Bis || barang langka itu tetap diminati.

Bis itu menjadi sebuah cerita. Di sebuah malam di Jakarta, tepatnya minggu malam. Disaat para pendatang dan perantau ibu kota come back atas masa liburannya. Tibalah dalam sebuah bis dalam kota (koantas bima). Diperjalanan masuk seorang remaja, menggendong sebuah tas hitam didepan dadanya. Dan dia beraksi, berkata-kata dan menjualkan produknya. Kancing Levis. 6 Kancing levis berwarna emang yang diperagakan dengan simple dalam pemakaiannya.

Penulis mengadakan penggalian melalui wawancara singkat, ada beberapa hal yang saya simpulkan atas usaha yang dia lakukan:
1. kerja mulai jam 12 sampai malam itu strategis untuk kancing. || Kancing itu bukanlah makanan, bukan pula tisu atau barang yang biasa dijual di bis yang selali laris. Sebut saja Doni, Penjual kancing tersebut memilih waktu berdagang pukul 12 sampai malam, kenapa tidak pagi, karena mode pagi sampai siang adalah moda waktu yang sangat tepat. Katanya, pagi itu waktu yang pas untuk jualan sarapan, jual yang lain, kasian kalau ditawarin kancing, kurang tepat timingnya”. Bisnis memang harus faham timing, kita jualan yang laku di pagi hari maka jual-lah di pagi hari. Kita tidak mungkin jualan di siang hari. Seperti tukang ojeg payung yang menjual jasa payungnya disaat hujan, bukan disaat terik matahari. Timing yang tepat merupakan bagian penting tersendiri dalam ketepatan sebuah prosen bisnis dan penjualan. Jika tepat, maka Bisnisnya akan pada ritme perkembangan yang baik.

2. Barang langka itu tetap diminati, Doni biasa mangkal di sekitar slipi-grogol-petamburan. Walaupun alamat di BBS, Doni sangat menikmati berjualan didalam bis ni. Setiap harinya dia bisa bertemu langsung dengan banyak manusia di dalam bis. Doni melihat manusia2 bis yang dalam ritme Kerja jakarta. Sebelum menjual kancing, Doni adalah Penjual Pulpen, pula kaos kaki dan barang2 lainnya. Dia sangat menikmati untuk berjualan di depan bis. Bis dijadikannya pasar tersendiri olehnya. Setahun lebih dia bertahan sebagai penjual kancing, bukan tanpa sebab dia bertahan, mungkin karena ini sangat menguntungkannya. Kancing ini dijual seharga 3.000 rupiah, tentu sudah dia kalkulasikan semua keuntungan yang akan dia dapatkan, barang ini tetap diminati walaupun terlihat aneh. Dan unik.

3. Periklanan dan promosi yang menarik, modal gesture, penampilan dan bahasa. Dia layaknya seorang orator yang menawarkan janji-janji kemudahan atas produk yang ditawarkan. Obral janji dan mendeskripsikan kemudahan produk yang dia jual. Ditambah Tampilan produk yang simple dengan penjelasan yang singkat di bagian belakang. Begitupun nominal harga, dia tidak menyebutkannya, hanya menyantumkan di bagian belakang, tanpa menawar atau melebihkan banyak penumpang yang membeli produk dia. Metode Pemasaran dan promosi yang baik dan tepat dilakukan oleh doni. Setidaknya dia sudah belajar untuk mempengaruhi semua penumpang untuk membeli produknya. Pola Instant Persuation uang dia gunakan seakan-akan meniadakan diskrimasi. Semua disamakan sebagai pendengar dan dia berbicara layaknya sebagai marketing executive yang sedang menawarkan dan mempresentasikan barang dagangannya. Walaupun Penjual Kancing, tapi pola promosi yang dia gunakan patut kita coba dan pertimbangkan untuk dicoba dalam bisnis-bisnis kita….

Ini langkah-langkahnya, langkahmu???

IFR


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: