Personal Blog Ihsan Fauzi Rahman, SH

Beranda » Uncategorized » Pengusaha Strata Menengah

Pengusaha Strata Menengah

Follow me on Twitter

Umurnya terlihat tua, sedang menata tatanan roti dalam gerobak kreasi yang berada pada motornya. 1×1 M luas papan penyimpanan roti bungkus. ku tanya2, untuk apa roti tersebut disusun rapi dan ditata, dipindahkan dari kardus Roti (dari pabrik langsung) pada gerobang yang ditempelkan pada jok belakang motor, model delivery Order Restoran akan tetapi ini bentuknya lebih besar, dengan kapasitas muatan Jumlah Roti yang lebih banyak.
Dia Menjawab dengan profesional “Roti ini saya beli dari Produksi Pabrik Roti, harganya 600 perak, lalu saya jual 800 ke warung-warung (jika laku) dan warung menjualnya harga pasar sebesar 1000 rupiah, saya untung 200 rupiah tiap 1 roti, bapak control setiap 3 hari sekali, ada penambahan ada pergantian (jika basi dikembalikan ke pabrik tanpa rugi), bapak sebar se kawasan cinere roti-roti ini”
Seorang Bapak yang umurnya diperkirakan 50 tahun tersebut menjadikan pekerjaan tersebut sebagai mata pencaharian. Usaha nya simple, dia tidak perlu produksi barang ataupun jasa yang dijual, dia hanya menjadi pihak kedua dari 4 pihak siklus Penjualan. Produsen-Distributor-Penjual-Pembeli.
Produsen menjual 600 tentu bukan tanpa perhitungan laba rugi, lalu untuk si bapak dan penjual disamakan 20% : 20%. Sebagai mekanisme marketing penjualan produk roti. Harga yang murah dengan bentuk kecil pasaran warung ini tetap dipertahankan. Mau tidak mau, sekalipun harga se-ceng ini terbilang ketinggalan zaman, tapi tetap dijadikan strategi dalam perdagangan.
Yang Menarik adalah si Bapak Distributor ini, hanya bermodalkan motor dan penguasaan wilayah (tentu setelah survei-apakah ada produk yang sama di warung tersebut). Kita bisa menghitung laba kotor secara kasar, jika dalam 3 hari si bapak menyebarkan 1000 Roti ke 20-30 warung.
20 warung x 50 roti : 1000 Roti x 200/Roti terjuan : 200.000/3 hari.
Jika rutin 1000 roti ke minimalnya 20 warung atau bahkan bisa lebih banyak, penghasilan minimal si Bapak adalah 2.000.000 perbulan. Lumayan, diatas UMR dan tidak terikat dengan jam kerja (baca:siklus macet). Amazing bukan????
Ku lihat terdapat ketekunan dalam menjalani proses-prosesnya, keberanian dalam mengekspansi pasar warung-warung yang akan ditanamkan pohon uang, dengan konsep bagi hasil yang sama untungnya dengan warung tersebut. Nilai Kejujuran dan kesabaran tentu menjadi dasar wirausahanya. Si Bapak Ini Pantas kita sebut dengan Pengusaha Strata menengah, tanpa produksi dan menjual, masih tetap mendapatkan untung yang bernilai. Penghasilan-pun tanpa diragukan, dan mental wirausaha-nya juga sangat meyakinkan. Bahwa dia menjadi bagian dari siklus perputaran barang dalam sebuah usaha.
Juga banyak model-model strata menengah ini diantara kita. Tak usah memandang remeh pekerjaan menghasilkan ini. Dan tentu Profesi ini dibutuhkan dan efektif menunjang keberhasilan sebuah penjualan usaha. Jasa-nya simple, tapi efeknya lebih massif, ter-arah, tepat sasaran dan tentu lebih hemat daripada kita memasang pengiklanan ke media-media elektronik ataupun cetak.
Kutanamkan salut dan jempol besar atas apa yang dilakukannya. Sebagai manusia, kita patut belajar dari banyak arah, manusia enterprener strata menengah ini patut kita apresiasi, karena mereka-lah yang menjadi bagian penting dalam sebuah perputaran barang dan jasa.
Semoga Bermanfa’at dan dimanfa’atkan🙂.
IFR


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: