Personal Blog Ihsan Fauzi Rahman, SH

Beranda » Uncategorized » Hima Persis Hope

Hima Persis Hope

Follow me on Twitter

Hima Persis Hope

Oleh : Ihsan Fauzi Rahman[1]

 

Muktamar segera tiba, pertanda akan datangnya siklus kematian dan kehidupan Hima Persis versi manusia pada zamannya. Mati dengan berakhirnya masa kepengurusan (baca:Jihad)  2010-1013 yang dipimpin oleh M.Reza Anshori dan generasinya. Muktamar adalah forum pertanggungjawaban kehidupan organisasi Hima Persis di masa tersebut. Disampaikan kepada seluruh kader Hima Persis peserta Muktamar nantinya, Penilaian dan evaluasi atas baik buruknya kepengurusan akan diuji di forum akbar organisasi kelahiran 24 Maret 1996 tersebut.

Hima Persis akan hidup kembali, atas sempurna atau cacatnya (baca:perlu disempurnakan) wajah yang dibangun atas perjuangan aktifis Hima Persis dari masa ke masa. Muktamar adalah saat yang sangat strategis dalam menentukan kembali kompas perjuangan yang akan diusung pada kepengurusan 2013-2015. Semua kader bertanggung jawab atas kesempurnaan perencanaan organisasi dan peletakan dasar-dasar aturan organisasi yang jelas dan tegas, mengarah pada kesempurnaan usaha untuk menancapkan mental ulul albab untuk setiap kader Hima Persis. Hima Persis harus menjadi wadah pencetak, cetakan sempurna Insan Ulul Albab yang harus kita rasionalisasikan dalam aksi-aksi strategis ke arah tersebut.

Hima Persis Hope

Hima Persis Hope, Insan ulul albab tidak boleh berhenti berharap. Alam cita dengan mental akademisi yang baik harus tetap dihiasi dengan jiwa optimisme memandang segala masalah. Internal keorganisasian layak mendapatkan perhatian yang serius, terlebih pada persoalan yang lebih besar. Hima Persis Perlu usaha lebih untuk menjadi bagian dalam penyelesaian masalah kebangsaan dan keumatan yang semakin hari semakin kompleks. Mahasiswa pada masa lalu telah membangun dan mewajahkan usaha mereka pada zamannya, dan tentu menjadi tanggung jawab kita atas zaman kemahasiswaan yang berbeda. Namun, Substansi Mahasiswa sebagai insan akademis, peneliti dan pengabdi tetaplah melekat. Kompleksitas problematika nyata dalam dunia menjadi pacuan kepada orang-orang sadar yang mau berfikir. Bahwa harapan bangkit dan menghidupkan perbaikan-perbaikan di umat ini masih terbuka lebar, sepanjang usaha massif itu masih terus direncanakan dan di-aksikan dengan baik dan benar. Kita memang tidak bisa menampik, sebagian dari jiwa kemahasiswaan kita sudah tercemar dengan realitas negasi dari keterlekatannya dengan zaman hedonis, politik pragmatis serta minimnya kesadaran dalam membangun mental Peduli. Saatnya kita mengakui semua problematika keumatan yang ada, lalu berbenah dengan kesadaran yang penuh bahwa harapan untuk Hima Persis yang lebih baik masih ada. Hima Persis Hope dibangun atas kesadaran kader-kadernya yang mau belajar dari ketertinggalan. Membangun pondasi dan menghiasi rumahnya dengan tampilan kreatif dan tentunya keyakinan pada impact kebermanfaatan manusia lainnya.

Berterima kasih pada sejarah!

Hima Persis dianalogikan sebagai siklus kehidupan, Embrio Hima Persis sudah muncul jauh dari era 90-an, lahir pada 1996-2000 dipimpin oleh Ihsan Setiadi Latif (Masa kelahiran dan starting gerakan organisasi Hima Persis), pasca Reformasi, tepatnya tahun 2000-2002 dilanjutkan dengan kepemimpinan Haerudin Amin (Penegasan Intelektualitas, Dinamika Pergerakan dan Ideologisasi), dilanjutkan pada 2002-2005 oleh Latief Awwaludin  (Internalisasi, Komunikasi Gerakan serta tradisi diskusi dan aksi) dan 2005-2010 oleh lam-lam Pahala (Penguatan intelektual, pembenahan organisasi dan kaderisasi serta Nasionalisasi dan Diplomasi Intelektual Lintas Negara) serta 2010 s/d sekarang mengusung Kepemimpinan Kolektif, Akselerasi Gerakan dan Modernisasi Gerakan.

Sejarah itu sudah berlalu, dan Hima Persis harus bisa belajar memahami dan mengkontekstualisasikan ‘ibroh dari perjalanan kehidupan Hima Persis. Eksistensi Hima Persis ke depan harus bisa menjawab problematika kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama. Kita harus berterima kasih pada Founder dan kader-kader Hima Persis pendahulu karena telah meninggalkan banyak masalah yang belum bisa terjawab. Masalah memacu dan memaksa kader untuk sadar senantiasa berfikir. Hima Persis yang masih belia, umur 17 tahun adalah masa ideal yang harus diisi dengan aktifitas positif. Tidak layak rasanya kita mengulang kesalahan-kesalahan yang sudah pernah eksis di Hima Persis. Konsistensi Aktifitas Positif Hima Persis harus lebih maksimal porsi kegiatannya daripada Disaktifitas Insan Ulul Albab. Kewajiban kader untuk memahami sejarah Hima Persis dengan lensa positif. menjadi kader yang memahami sejarah dan memahami peradaban terbaik untuk mereka ciptakan.

Membangun Mental Organizationpreneurship

            Di Indonesia, istilah Preneurship hanya dikaitkan sempit dengan masalah perekenomian. Kemiskinan karya dan kekayaan menyudutkan pada frase kata yang sempit dan kesalahan tersebut menjadi embrio ketidak-preneurship-an pada bidang-bidang strategis bangsa. Istilah Preneurship bermakna Produktif dan Efektif. Diikatkan pada Organizationpreneurship berarti Organisasi yang Produktif dan Efektif dalam ke-organisasi-annya. Realitas kader yang tidak produktif dalam melahirkan karya-karya intelektual, lemahnya kaderisasi yang melahirkan kader yang lemah, stagnan-nya kepekaan sosial melahirkan ketidakpedulian kader pada realitas sosial serta efektifitas yang lemah dalam menjalankan visi dan misi Hima Persis bisa kita rasakan bersama, dan hal tersebut menjadi masalah Kepemimpinan Organisasi baik tingkat Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah dan Pimpinan Komisariat.

            Besar atau kecilnya Hima Persis layaknya tidak dijadikan standar pertama dalam bergerak produktif dan efektif. Hima Persis ke depan harus dibangun atas mental kader-kader yang produktif dan efektif. Survive of life kader dalam mempertahankan Hidupnya harus diejawantahkan dalam mental kehidupan organisasi. Pemimpin harus cerdas dan cerdik dalam menjawab permasalahan. Setting peradaban ulul albab adalah sesuatu yang luar biasa yang harus dibangun oleh kadernya. Hima Persis harus menjadi organisasi yang produktif dan efektif dalam menjiwai visi dan misi ideal dan islami.

            Dan sudah saatnya kita berfikir untuk pola kebermanfa’atan lebih dalam sebuah aksi gerakan bersama. Produktifitas dalam program-program yang digariskan harus bisa melahirkan banyak karya pemikir dan pemikiran yang nantinya akan melekat sebuah mental pemimpin yang teruji dan mampu menularkan impact positif terhadap perubahan yang lebih besar. Pola efektifitas harus dijadikan pola dasar dalam operasional organisasi, pemborosan dan penundaan sesuatu yang baik akan berdampak pada pembodohan yang akan menunjang ketidakbermanfaatan sebuah wadah.

            Building Intelectual Force

            Mahasiswa lekat dengan tali intelektual, Hima Persis adalah sebuah wadah yang tersatukan atas kesadaran para pencari ilmu. Jangan terlalu jauh memikirkan tanggung jawab kaum intelegensia (Istilah M.Hatta) jika membangun mental dan budaya intelektual masih stagnan dalam keterbelakangan. Realitas yang memprihatinkan atas mundurnya budaya intelektualisme di kalangan mahasiswa. Padahal, alam kemahasiswaan ini adalah Masa dimana keilmuan ini ditinggikan melalui perguruan tinggi, pemikiran terbuka dalam alam diskusi dan baca-tulis.

            Hima Persis, mencitakan identitas kadernya dengan Intelektual plus ketakwaan. Cita-cita yang ideal yang harus diupayakan. Mulai saat ini, setiap kader harus berupaya lebih untuk menggapai gelar intelektual (baca : bukan hanya sarjana atau ilmuwan). Hima Persis harus menjadi wadah yang mencipta budaya tersebut. Hima Persis jangan hanya sebatas pergumulan yang berkumpul atas dasar emosional kepersisan. Tapi Hima Persis harus menjadi gerakan yang membangun budaya keilmuan yang mapan dan mewadahi ekspektasi cita intelektual plus dari Insan Ulul Albab.

            Membangun pola Intelektualisasi yang aktif,  bisa dengan mendirikan pusat kajian-kajian keilmuan dasar atau diskusi roundtable tematis yang aktual juga membedah buku-buku secara komprehensif tentang ilmu-ilmu yang ada. Budaya Menulis yang faktanya minim, perlu diperhatikan secara serius. Kader harus mampu mencipta karya melalui tulisan, melalui pembacaan karya yang sudah dilakukannya dan dibuahkan menjadi karya yang sudah menjadi ke-khas-an pemikirannya.

            Hima Persis sudah saatnya kembali memperkuat usaha-usaha peningkatan nilai intelektualitas kader. Banyak hal mendasar yang sudah dilupakan bahkan diacuhkan oleh kalangan Kader Hima Persis. Penguatan kembali tradisi membaca dan menulis harus diterapkan diseluruh pimpinan Hima Persis. Nilai Intelektualitas, bagaimanapum model zaman nya, tetap menjadi tanggung jawab kita. Sebelum lebih jauh kita merubah masyarakat, maka Intelectual Force dalam identitas kader Hima Persis adalah sebuah keniscayaan. Hima Persis bertanggung jawab untuk mencipta sistem penunjang atas tujuan yang ideal tersebut.

            Kaderisasi Simultan dan Terarah.

            Pola Kaderisasi yang sudah ada di Hima Persis, jika diamati dalam lensa realitas kaderisasi Hima Persis sekarang, tentu kita bisa menilai jauh dari kesempurnaan. Dalam Episode ke 17 Tahun Hima Persis, kita belum bisa melihat tokoh-tokoh atau pemimpin dari Hima Persis. Kita bisa menghitung output dari kaderisasi Hima Persis, betapa simpang-alur yang sudah terjadi pada sistem kaderisasi Hima Persis.

            Tidak bisa kita pungkiri, bahwa Hima Persis sebagai Organisasi Kepemudaan yang disifati dibawah Organisasi Kemasyarakatan (sayap ormas) masih bergantung pada kesamaan emosional Kepersisan. Belum tercipta sistem yang rasional yang dapat mengubah dan mencerahkan kepada pola kaderisasi Hima Persis saat ini. Tentu ini menjadi PR Kepemimpinan Hima Persis ke depan. Kaderisasi adalah jantung sebuah organisasi, Hima Persis sudah menegaskan jati diri organisasi sebagai Organisasi Kader. Hima Persis bukan organisasi massa, bukan supporter club, juga bukan organisasi bisnis. Hima Persis adalah wadah yang menunjang atas keberlangsungan pola sikap ulul albab yang harus ditanamkan melalui kaderisasi formal, informal maupun nonformal.

            Jika kita menilik pelaksanaan KABAH, MAKKAH dan MADINAH di Hima Persis, maka kita akan menemukan ketidaksesuaian yang signifikan. KABAH dan MAKKAH merupakan Kaderisasi Formal yang sudah berjalan lama (Baru Hima Jawa Barat yang sudah melaksanakan MAKKAH sendiri) sejak berdirinya Hima Persis, Pelaksanaan KABAH selalu berbeda sesuai Panitia Pelaksananya masing-masing. Hal tersebut menjadi problem sendiri, kaderisasi dasar seharusnya dimaknai secara rigid karena merupakan masa ideologisasi doktrinal terhadap kader. Bidang Kaderisasi harus tegas terhadap standarisasi dan petunjuk pelaksanaan KABAH HIMA PERSIS menjadi kaderisasi yang berkelanjutan dan terarah pada kehidupan aktivisme yang akan datang. MADINAH baru dilakukan sekali, beberapa bulan yang lalu. Menyisakan banyak PR dan evaluasi sebuah kaderisasi tingkat akhir di Hima Persis.

            Penegasan kembali atas standarisasi Pedoman Kaderisasi dan menerapkannya pada setiap pelaksanaan kaderisasi di Hima Persis se-Indonesia adalah sebuah keharusan untuk membangun sistem kaderisasi Hima Persis yang lebih baik. Hima Persis harus menertibkan sistem pelaksanaan kaderisasi setiap level dengan rapih, sistematis dan konstruktif terhadap kemajuan kaderisasi intelektual Hima Persis.

            Kaderisasi tidak hanya dilakukan secara formal, namun organisasi harus menindaklanjuti dengan kegiatan-kegiatan yang diarahkan mencapai maqam intelektualitas dan ketaqwaan yang lebih baik. Kita seringkali lupa untuk merawat setelah menanam, tentu panen yang dihasilkan tidak akan sesuai dengan kita harapkan. Maka dari itu, kita harus menciptakan sistem kaderisasi informal sebagai penunjang kaderisasi formal yang sudah dilaksanakan dan keberlanjutan tersebut akan lebih efektif mendidik dan memandirikan kader dalam membentuk identitasnya sendiri. Kaderisasi adalah hal terpenting yang harus ditertibkan, jika tidak maka Hima Persis akan jauh tertinggal tua oleh Ormawa yang lebih cerdas dalam membentuk pola kaderisasi yang terarah.

            Wirausaha Membangun Kemandirian Insan Ulul Albab

Mahasiswa dan Wirausaha adalah trend baru dalam dunia kemahasiswaan, kaum muda dituntut untuk mandiri dan menjadi studentpreneur bagi dirinya. Wirausaha akan membangun mental kemandirian mahasiswa sebelum nantinya terjun pada dunia yang sesungguhnya. Realitas Kader Hima Persis, adalah kalangan menengah ke bawah. Kondisi Perekonomian tersebut akan mudah terguncang oleh residu politik ekonomi di masa demokrasi. Ada istilah kemiskinan mendekatkan pada kekufuran , kemiskinan kader akan mendekatkan kader pada kekufuran idealita. Pragmatisme gerakan menjadi bentuk nyata dari sebuah kemunduran ekonomi yang berdampak langsung pada pemikiran. Tidak sedikit ormas atau ormawa atau okp yang menjual organisasinya (menjual suara organisasi) kepada calon berduit yang mampu memenuhi hasrat kebutuhan ekonomi organisasi (antek organisasi).

Hima Persis harus menciptakan pendidikan wirausaha dan memfasilitasi dengan fungsi keorganisasiannya dalam menjaring relasi yang lebih luas daripada usaha individu. Kemapanan mental dan materi kader dalam organisasi menjadi penting dalam dunia demokrasi, Residu Demokrasi di Indonesia menggoda aktivis mahasiswa untuk senantiasa menjual cita menjadi hal yang nista dan berbuah kemanisan yang dinikmati secara pribadi atau golongan tertentu.

Kader hima Persis harus mampu menjadi penjual, creativemarketer, creativeorganizer, creativeintelektual dalam menjual dan menawarkan gagasannya untuk kebermanfaatan masyarakat. Marketing pergerakan harus dibungkus sesuai rasa perkembangan zaman, hingga kebermanfaatan itu bisa langsung terasa lebih luas dan massif kepada masyarakat. Hima Persis itu jualannya ide untuk perubahan masyarakat jangka panjang,bukan jualan organisasi yang berjangka pendek untuk kepentingan sesaat dan kebodohan jangka panjang. Jika kader Hima Persis sudah bermental mandiri, tentu akan berdampak pada kemandirian organisasi. Kemandirian organisasi tentu akan lebih mudah memberi manfaat, bukan menjadi beban masyarakat. Rasulullah pun berwirausaha dengan cerdas dan jujur, dengan strategi tersebut maka lebih memudahkan beliau dalam berdakwah.

            Revitalisasi Kepedulian sosial

            Mahasiswa yang anti-sosial, mahasiswa yang acuh pada perubahan sosial, mahasiswa yang merusak sistem sosial. Itulah sebagian besar kenyataan pada dunia kemahasiswaan. Individualisme dan Hedonisme berujung pada sikap tidak peduli pada orang lain. Secara sosiologis, zaman ini telah berubah dan sdengan mudah merubah mental para aktifis di dunia kampus.

            Insan Ulul Albab, adalah insan yang dermawan, insan yang berkomitmen sosial, insan problem solver atas permasalahan umat.Kader Hima Persis mengaplikasikan fikir dan zikirnya melalui aksi-aksi yang menyentuh-sembuhkan langsung pada penyakit sosial yang ada, menanggulangi keterbelakangan sosial yang nyata dan membantu menyelesaikan masalah sosial yang hidup dan selalu menjadi problematika bangsa. Hima Persis harus menjadi bagian kelompok yang memberi kebermanfaatan pada masyarakatnya. Dengan izin-Nya kelompok kecil bisa memberi manfaat besar bahkan lebih besar daripada kelompok yang lebih besar, itupun sudah dicontohkan oleh pejuang islam di zamannya terdahulu. Hima Persis harus mengisi post pembantuan permasalahan negara dan bangsa. Indonesia adalah negara besar, tentu masalahnya juga besar. Hima Persis harus lebih berjiwa besar dalam andilnya memberikan perbaikan dan perubahan mendasar pada masyarakat.

            Aksi-aksi perubahan bisa dimulai dari hal yang terkecil sampai yang paling besar. Hima Persis harus mendidik dan menumbuhkembangkan mental kepedulian sosial untuk semua kader Hima Persis. Hima Persis menegaskan identitas intelektualitas dan ketaqwaan. Kewajiban orang bertakwa adalah peduli kepada saudaranya. Yang Bertakwa tidak takut kehabisan harta jika banyak membantu di jalanNya.

Masalahnya sudah teramat jelas, kesadaran Hima Persis yang harus lebih Jelas!

            Dari uraian diatas, kita bisa memahami banyak masalah yang mendarah-daging di organisasi hima persis, banyak masalah yang menjangkit umat manusia indonesia. Masalahnya sudah teramat jelas bisa kita rasakan. Kebijaksanaan Kader Hima Persis diuji atas kompleksitasnya masalah, apakah kita akan menjadi bagian pelengkap masalah-masalah tersebut. Ataukah kita akan menjadi kelompok manusia yang sadar atas fikir dan zikirnya dalam menanggulangi problematika nyata tersebut.

            Kita harus bersyukur, atas karunia problematika yang sangat besar. Hima Persis akan lebih besar dengan masalah besar tersebut jika mampu memposisikan diri dalam menyelesaikan permasalahan umat. Allah mencipta kesempatan yang lebih besar untuk kita bersabar atas karunia masalahnya. Kita tidak boleh terjebak pada ketertinggalan. Kita tidak boleh tersesat pada alam yang krisis kesadaran.

            Hima Persis Hope adalah sebagian kecil untaian optimisme, Hima Persis bisa diperbaiki dan diperbaiki atau diperbaiki serta diperbaiki. Tidak ada pilihan lain selain memperbaiki Hima Persis untuk menciptakan Insan-insan ulul albab untuk Peradaban yang ulul albab. Jika kita sudah menanam kemauan, dan menguatkan kesadaran serta keyakinan. Pastilah kita dapatkan kejayaan (baca : keberhasilan perjuangan) Hima Persis.

Wawlahu A’lam bisshowab.

IFR

 


[1] Tulisan ini disampaikan pada konvensi Hima Persis Jakarta untuk Muktamar Hima Persis VII, 25 April 2013 di Jagat Alas-BSD


2 Komentar

  1. Yoga mengatakan:

    Wanjis, mangpranglah. hahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: