Personal Blog Ihsan Fauzi Rahman, SH

Beranda » Uncategorized » Mimpi di Rumah Tahfidz

Mimpi di Rumah Tahfidz

Follow me on Twitter

Ya, Hari ini aku tertegun dengan nyata yang ada di lingkungan RUMAH. Harus ada konsep super Hero dalam menyelematkan manusia di lingkungan rumah. Termasuk Keluarga sendiri.

Bismilah, Rumah Tahfidz…HARUS JADI!!!

PENGERTIAN RUMAH TAHFIDZ Rumah artinya adalah bangunan untuk tempat tinggal Tahfidz berasal dari kata hafadzo yang berarti menjaga. Adapun yang dimaksud disini adalah menjaga dengan menghafal al Qur’an. Rumah Tahfidz adalah Rumah yang dipergunakan sebagai tempat Tahfidz/menghapal al-qur’an KONSEP RUMAH TAHFIDZ merupakan ide/gagasan Pondok pesantren DAARUL QUR’AN dalam upaya menerapkan DAQU METHODE dan program PEMBIBITAN PENGHAPAL AL QUR’AN ditengah-tengah masyarakat. KENAPA RUMAH ???? YANG DIJADIKAN TEMPAT TAHFIDZ??? Gagasannya muncul agar penghafal-penghapal Al- Qur’an lahir ditengah-tengah masyarakat tidak hanya di pondok pesantren dengan melibatkan potensi masyarakat yang ada, baik guru ngaji yang hafal Al Qur’an, alim ulama, tokoh masyarakat maupun donatur , program dari, oleh dan untuk masyarakat dibawah bimbingan DAARUL QUR’AN. RUMAH TAHFIDZ QUR’AN CINTA RASUL Rumah Tahfidz Qur’an Cinta Rasul merupakan Rumah Tahfidz Qur’an dibawah bimbingan Ponpes Daarul Qur’an salah satu upaya untuk ikut program pembibitan penghapal al-quran yang hadir dari masyarakat, di kelola oleh masyarakat dan ditujukan untuk masyarakat.


 

Rumah Tahfidz Cahaya Hati adalah project perdana di wilayah Pekalongan  berupa pendirian Pesantren Tinggi Tahfidzul Qur’an Al-Karim Dan Studi Islam KH. Cholil Az-Zakaria di Rumah Tahfidz Cahaya Hati. Konsep pensantren tahfidzul qur’an terpadu adalah  lembaga pendidikan yang menyelenggarakan program menghafal alqur’an yang dipadukan dengan dirasah al islamiyah (studi Islam).

 

Visi:

Membina generasi qur’ani yang hafizh-hafizhah daiyah

Misi:

  1. Transformasi ilmu agama
  2. Memberikan pemahaman al Qur’an yang benar
  3.  Memberikan bimbingan tahsin dan tahfidz Qur’an
  4. Memahami al Qur’an dalam berbagai aspek kehidupan
  5. Penyebaran tarbiyah dan dakwah islamiyah.

 

 

konsep one day one ayat (satu hari satu ayat), menghafal Quran jadi mudah sekali. Hanya lima menit satu hari, masak nggak bisa?”

 

 

Rumah Tahfidz, sebuah konsep pesantren mini tanpa asrama, tanpa masjid, tanpa sekolah

Tanpa asrama? karena asrama yang di pakai adalah rumah, syukur-syukur rumah tersebut berdekatan  dengan masjid. Tanpa madrasah atau sekolah? karena sekolah atau madrasah bisa bekerjasama dengan lingkungan sekitar, dan tidak perlu pula untuk membangun masjid karena yang di pakai adalah masjid sekitar.

berawal dari konsep Rumah Tahfidz yang dikonsep oleh Ust. Yusuf Mansur, pada bulan desember 2009 berdirilah Rumah Tahfidz di daerah Deresan Yogyakarta. Kemudian pada bulan Februari 2010 berdirilah kembali Rumah Tahfidz yang kedua yang dikhususkan untuk santri Putri di daerah deresan.

dan alhamdulillah semakin berkembangnya Rumah Tahfidz, sekarang Rumah Tahfidz QU sudah mengelola 6 Rumah Tahfidz di daerah Yogyakarta. berikut alamatnya:

1. Rumah Tahfidz Deresan Putra

Alamat : Jl. Deresan III No. 24 Depok Sleman Yogyakarta

2. Rumah Tahfidz Deresan Putri

Alamat : Jl. Nusa Indah CT VIII/136 H Karanggayam Sleman Yogyakarta

3. Rumah Tahfidz Waroeng Group

Alamat : Jl. Balirejo I

4. Rumah Tahfidz Aduhai Qur`an

Alamat : Pogung Lor

5. Rumah Tahfidz Badminton

Jl. Ganesha II No. 54b Timoho Yogyakarta

6. Rumah Tahfidz Humaira

Alamat : Jl. Deresan II No. 4 Depok Sleman Yogyakarta

Rumah Tahfidz Waroeng Group

Berlokasi dikawasan Timoho Yogyakarta, tepatnya timur selatan perumahan Ganesha Anda mendapati rumah tahfidz ini. Ditengah pemukiman yang tenang dan bersebelahn dengan masjid Nurul Iman membuat atmosfir mengaji dan menghafal yang sangat kondusif di rumah tahfidz ini. Sehingga bagi Anda yang memiliki putra, yang sangat ingin menghafal Al-Qur’an dapat menitipkan ke rumah tahfidz ini atau dapat juga secara kalong (pulang pergi).

Oleh: H. Ahmad Slamet Ibnu Syam, Lc
Mantan Staf Pengajar Al-Qur’an di Institut Syeikh Ahmad Kuftaro & Ma’had Tahfidz al-Qur’an di Masjid al-Mahmud dan Masjid Mazzeh al-Kabir, Damaskus-Suriah.

Bulan Ramadhan sudah di ambang pintu. Bulan yang dinanti-nanti umat Islam sedunia. Bulan suci yang penuh berkah, rahmat dan ampunan. Bulan diturunkannya al-Qu’ran, mukjizat teragung Nabi Muhammad saw. Al-Qur’an diturunkan pada salah satu malam di bulan Ramadhan. Malam yang lebih baik dari seribu bulan, ialah Lailatul Qadr. “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan (Lailatul Qadr). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan” (QS. Al-Qadr [97]: 1-3)

Allah swt menurunkan al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi manusia untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. “Bulan Ramadhan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak & yang bathil)” (QS. Al-Baqarah [2] 185). Namun sudahkah umat Islam yang meyakini dan mengaku berkitab suci al-Qur’an menjadikannya sebagai pedoman hidup?!

Fenomena “Hijrah”nya sebagian umat Islam dari al-Qur’an menuju fatamorgana kenikmatan duniawi adalah fenomena yang cukup memprihatinkan. Begitu juga fenomena menjadikan al-Qur’an hanya sebatas bacaan ritual pada momen-momen tertentu saja. Tak kalah memprihatinkannya ketika al-Qur’an hanya dijadikan pajangan, tidak dibaca, dihafal, dikaji dan ditelaah.

Menyinggung tentang hal ini salah seorang sosiolog muslim ternama, DR. Ali Syariati menyatakan: “ Musuh-musuh Islam berhasil membawa berbagai perubahan dengan cara menerapkan kebijakan yang khusus. ‘Buku do’a’ dibawa dari pekuburan ke kota sedangkan Al-Qur’an dijauhkan dari warga kota dan diberikan kepada orang-orang di pekuburan yang membacanya untuk roh-roh orang mati. Pendekatan serupa diterapkan di sekolah-sekolah agama (madrasah). Al-Qur’an disita dari tangan murid-murid yang mengkaji Islam lalu disimpan di rak-rak; kedudukannya digantikan oleh buku-buku yang membahas berbagai prinsip dan filsafat”.

Fenomena yang diungkapkan oleh Syariati di atas benar-benar terjadi saat ini di Indonesia. Oleh karena itu diperlukan usaha bersama umat Islam Indonesia, khususnya para pemimpin dan ulamanya untuk menciptakan iklim Qur’ani serta mengembalikan posisi al-Qur’an sebagai petunjuk, panutan dan pedoman.

Tak dapat dipungkiri bahwa kejayaan umat Islam pada masa lampau adalah disebabkan keberpegangteguhan mereka terhadap al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Maka dari itu musuh-musuh Islam berusaha menjauhkan al-Qur’an dari kehidupan umat Islam kontemporer agar kejayaan umat Islam pada masa lampau tidak dapat terulang lagi.

Iklim Qur’ani di Suriah

Di Suriah, usaha untuk menciptakan iklim Qur’ani selalu dilakukan mulai dari kalangan proletar sampai kalangan atas. Ulama dan umara’ di Suriah bekerjasama untuk menciptakan iklim Qur’ani tersebut. Walaupun memang sebenarnya lebih banyak usaha & inisiatif para ulamanya serta masyarakatnya dibanding umara’nya.

Di antara usaha-usaha tersebut adalah pengadaan pesantren-pesantren hafalan al-Qur’an, di masjid-masjid yang terdapat di seantero Suriah bagi anak-anak usia sekolah, sepanjang tahun dan khususnya saat liburan musim panas selama tiga bulan. Seluruh pesantren tersebut di dalam pengawasan Kementerian Wakaf Suriah atau setingkat dengan Departemen Agama di Indonesia.

Sejak kecil anak-anak umat Islam di Suriah sudah diajarkan dan dibiasakan untuk mencintai, membaca, menghafal dan mengkaji al-Qur’an. Sehingga iklim Qur’ani sudah diciptakan sejak usia dini.

Untuk mengikuti salah satu pesantren tersebut para peserta didik tidak dipungut biaya sama sekali. Bahkan akan mendapatkan fasilitas dan hal-hal yang menarik. Banyak cara pengurus pesantren-pesantren di setiap kampung & wilayah di Suriah untuk menarik minat dan perhatian anak-anak agar mengikuti pesantrennya.

Di antara cara-caranya adalah dengan mengadakan rekreasi ke taman bermain, kolam renang atau pantai bagi para peserta didiknya, sepekan sekali. Di tambah dengan pengadaan hadiah-hadiah menarik bagi para peserta didik yang berprestasi. Prestasi-prestasi tersebut meliputi: yang paling banyak hafalan al-Qur’annya, yang paling bagus bacaan tajwidnya, yang paling rajin shalat jama’ahnya dan lain sebagainya.

Dengan iming-iming seperti di atas, kebanyakan anak-anak umat Islam yang berusia sekolah di Suriah lebih senang menghabiskan liburannya di masjid-masjid di wilayahnya untuk mengikuti pesantren-pesantren hafalan al-Qur’an, dibandingkan bermain di jalan atau di pasar.

Meski namanya Ma’had Tahfidz al-Qur’an (Pesantren Hafalan al-Qur’an) namun materi-materi yang diberikan tidak hanya tentang al-Qur’an. Memang materi intinya adalah hafalan al-Qur’an, namun diajarkan juga ilmu-ilmu Islam yang lain, seperti hadits, tafsir, fikih & akhlak.

Selain manfaatnya berpulang bagi umat Islam sendiri, pengadaan pesantren-pesantren hafalan al-Qur’an seperti ini banyak memberikan manfaat bagi kehidupan sosial di Suriah secara umum. Di antaranya adalah meminimalisir adanya kriminalitas dan ketimpangan-ketimpangan sosial, seperti pencurian, perampokan, pembunuhan dan pemerkosaan.

Hal itu disebabkan karena kebanyakan anak-anak dan pemuda di Suriah pada masa-masa kosongnya (liburan sekolah) –dan bahkan pada masa-masa sekolahpun– lebih banyak berkumpul di masjid dibanding berkumpul di jalan-jalan, di tempat-tempat bermain, di pasar-pasar atau di mal-mal seperti di Indonesia. Mereka lebih banyak membaca al-Qur’an ketimbang membaca buku-buku yang dapat merusak moralitas.

Seperti dikatakan dalam salah satu pepatah Arab: “Sesungguhnya masa muda, masa kosong dan keluasan harta benar-benar dapat merusak diri seseorang” tentu maksudnya jika tidak difungsikan dengan baik. Namun jika difungsikan dengan baik maka akan menghasilkan hal-hal yang dahsyat yang dapat bermanfaat bagi umat manusia.

Akankah orang-orang tua muslim yang memiliki anak-anak dan pemuda menyadari akan hal ini?! Wallahu’ alam bi as-Shawab.

Sumber : http://moslemz.multiply.com

Sulit Menghafal Al-Qur’an?

Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Qomar yang artinya:”Dan sesungguhnya telah kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang  yang mengambil pelajaran?” Allah telah mengulang ayat ini dalam surat yang sama sebanyak empat kali, yakni ayat ke 17, 22, 32, dan 40. Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa Allah telah memudahkan al-Qur’an untuk dibaca, dihafal dan dipelajari maknanya sebagaimana yang telah di sebutkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya.

 Dalam ayat yang lain Allah juga telah berfirman yang artinya: ”Maka sesungguhnya telah kami mudahkan Al-Qur’an itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al-Qur’an itu kepada orang-orang yang bertakwa”. (Maryam: 97).

Namun dalam kenyataannya, tidak jarang kita mendapatkan sebagian dari kita mengalami kesulitan dalam menghafal Al-Qur’an, Pagi hari menghafal, sore harinya tidak jarang yang sudah lupa, begitu dan seterusnya. Maka setiap kita yang mengalami hal yang demikian harus senantiasa instropeksi diri (muhasabah). Sebab kalau kita perhatikan dengan seksama dan dengan penuh kejujuran dan kesadaran terhadap diri kita, maka akan kita dapatkan bahwa sulitnya kita dalam menghafal Al-Qur’an tidak akan terlepas minimal dari dua sebab berikut:

Kita belum mencurahkan seluruh potensi kita?.

Inilah pertanyaan pertama yang mesti kita jawab. Mari kita merenung sejenak, betapa banyak waktu yang sebenarnya masih kita sia-siakan tanpa aktifitas yang bermanfaat. Kita belum merealisasikan firman Allah dalam surat asy-syarh ayat 7 yang artinya:”Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).”dan juga sebagaimana yang dikatakan oleh pepatah arab “Barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti dapat”

Maka kita harus bakhil dan penuh perhitungan terhadap waktu, jangan sampai waktu kita lewatkan begitu saja tanpa berinteraksi dengan Al-Qur’an. Dan kita harus senantiasa menyadari bahwa semudah apa pun suatu pekerjaan -termasuk dalam hal ini menghafal Al-Qur’an- kalau tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh maka hasilnya pun tidak akan maksimal.

Maka solusi dari permasalahan yang pertama ini, tandzimul auqoot (manajemen waktu) menjadi suatu keharusan. karena pada hakikatnya menghafal Al-Qur’an tidak hanya bermodalkan kecerdasan otak semata, Tetapi yang lebih penting dari itu adalah pandainya seseorang dalam mengatur waktunya dan istiqomah.

Bagaimana kita saksikan Imam Syafi’i yang dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa beliau melaksanakan sholat subuh dengan memakai wudhu sholat isya’. Ini menunjukkan bahwa beliau tidak tidur semalaman untuk menelaah ilmu. Lalu bagaimana dengan kita…..???? apakah kemudian pantas kita bersantai-santai, banyak bersenda gurau, banyak tidur, tapi ingin mendapatkan ilmu sebagaimana yang didapatkan oleh imam Syafi’I ???

Pengaruh dosa dan maksiat

Di antara dampak dosa dan maksiat yaitu terhalangnya ilmu syar’I- termasuk di dalamnya Al-Qur’an- dari diri kita. Padahal ilmu syar’ilah yang akan menghantarkan kita ke dalam golongan orang-orang yang bertakwa serta jalan yang paling cepat dan mudah untuk sampai kepada Allah. Sebagaimana perkataan Ibnu Rajab ketika menjelaskan hadist “barang siapa menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” dia berkata: “ilmu itu menunjukkan jalan menuju kepada Allah dan merupakan salah satu jalan paling dekat dan paling mudah. Maka barang siapa menggunakan ilmu dan tidak menyimpang darinya, niscaya akan sampai kepada Allah dan surga melalui jalan paling dekat dan mudah”.

 

Salah seorang salaf berkata:” Bagaimana seseorang akan bertakwa, jika ia tidak mengerti apa yang harus dijauhi?”

Ibnu Rajab juga berkata: ”pangkal takwa adalah: hendaknya hamba mengetahui apa yang harus dijauhinya, kemudian menjauhinya”.

 

Beliau juga berkata: ”barang siapa menempuh suatu jalan yang dikiranya jalan menuju surga, tanpa mempunyai ilmu, maka benar-benar telah menempuh jalan yang sangat sukar dan berat, meski demikian tidak akan menyampaikannya kepada tujuan”.

 

Maka kepada para penghafal Al-Qur’an hendaknya ia bermujahadah dalam meninggalkan dan menjauhi kemaksiatan, sebab dosa dan kemaksiatan adalah faktor utama terhalangnya ilmu syar’I (Al- Qur’an) dari hati kita. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Malik.

Ketika Imam Syafi’i duduk di hadapan Imam Malik dan membacakan kitab Muwatho’, maka Imam Malik terheran-heran terhadap cahaya dan sinar kecerdasan dan kesempurnaan pemahaman Imam Syafi’i, maka Imam Malik berkata: ”Sesungguhnya aku melihat bahwa Allah telah menanamkan cahaya dalam hatimu maka janganlah kamu padamkan cahaya itu dengan gelapnya kemaksiatan”.

Dan sungguh para salafussholih mengetahui bahwa meninggalkan maksiat adalah prinsip utama yang harus dimiliki untuk mendapatkan ilmu. Bisyr bin Harits berkata: ”jika engkau ingin mendapatkan ilmu maka janganlah bermaksiat”.

Al-Qosim bin Abdurrahman berkata:“ Abdullah berkata; saya kira orang yang lupa akan ilmunya itu disebabkan kesalahan yang ia kerjakan“.

 

Dan di antara dampak positif kemaksiatan terhadap ilmu adalah apa yang diriwayatkan bahwa Imam Syafi’i Rahimahullahu, dan beliau adalah orang yang terkenal dengan kecerdasan otaknya serta cepatnya dalam menghafal. Baliau mengadu kepada gurunya, Waqi’, bahwa suatu hari beliau mengalami kekacauan dalam menghafal. Maka gurunya menunjukkan obatnya, yaitu meninggalkan maksiat, dan mengosongkan hati dari hal-hal yang dapat menjauhkannya dari Allah. Sebagaimana perkataan beliau yang sangat terkenal; aku mengadu kepada Waqi’ terhadap kacaunya hafalanku, maka beliau menasihatiku agar meninggalkan kemaksiatan. Dan ia memberitahuku bahwasanya ilmu itu cahaya, dan cahaya Allah itu tidak akan diberikan kepada ahli maksiat.

Memang manusia tidak akan ada yang terlepas dari dosa sama sekali. Setiap manusia pasti pernah terjatuh di dalam perbuatan dosa, akan tetapi bagi kita para penghafal Al-Qur’an dan para penuntut ilmu syar’i senantiasa berusaha menjauhi kemaksiatan baik yang kecil apalagi yang besar, serta senantiasa memperbanyak istighfar. Sebagaimana sabda Rasulullaah sholallahu `alaihi wa salam yang artinya ”setiap anak keturunan adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang-orang yang senantiasa bertaubat“.

Ibunda Aisyah rodhiyallahu ‘anha juga berkata: “maka beruntunglah orang-orang yang nanti di akhirat mendapatkan shohifah (lembaran catatan amal)nya penuh dengan istighfar“

 

Mudah-mudahan Allah senantiasa membimbing lisan kita untuk senantiasa basah dengan banyaknya istighfar kepada Allah subhaanahu wa ta’ala, amiin yaa mujibas saailin…..

Itulah dua hal minimal yang semestinya senantiasa menjadi perhatian para penghafal Al-Qur’an, senantiasa memanfaatkan waktunya untuk hal-hal yang bernilai ibadah di sisi Allah. Dan seharusnya setiap muslim apalagi para pembawa bendera islam (Al-Qur‘an) menjadikan hadits:

من حسن إسلام المرء تركه مالا يعنيه

Sebagai mizan di dalam beramal, sehingga setiap hendak melakukan sesuatu amal dia senantiasa melihat dan menimbang dengan hadits tersebut, apakah ada manfaat dunia atau akhiratnya. Kalau ada manfaat baik dunia atau pun akhirat maka dia kerjakan namun jika tidak ada manfaat dunia apalagi akhirat dia tinggalkan. Dan juga senantiasa bertaubat dan beristighfar kepada Allah subhaanahu wa ta’alaa……..

Mudah-mudahan Allah senantiasa membimbing kita untuk tetap hidup bersama Al-Qur’an sampai akhir hayat kita amiiiiin ya rabbal ‘alamiin

Sumber : http://www.isykarima.com

 

 

PENDAHULUAN

 

A.  Latar Belakang Penelitian

Ketika siswa(santri) mendapatkan prestasi yang bagus atau  mendapatkan kemajuan belajar yang baik, ini menunjukan siswa tersebut berhasil dan sukses. Bagi guru hal itu merupakan kebanggaan. Karena prestasi yang diraihnya, berkaitan dengan proses belajar yang selama ini diberikan dan diajarkan. Begitu juga bagi lembaga pendidikan yang berkonsep boarding, keberhasilan siswa( santri) merupakan bagian yang terintegrasi didalam proses tersebut.  Karena pengelola asrama merupakan orang yang setiap hari memantau dan mengetahui perkembangan santri secara menyeluruh. Tentunya hal tersebut  tidak terlepas dari bagaimana manajemen pengelolaan asrama mendesign  sistem yang baik.

Konsep sekolah berasrama dikenal dengan boarding school. Seperti yang sudah ada dan dikenal misalnya,  sistem boarding school di Gontor Ponorogo, boarding school di Darun Najah Jakarta, atau di Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an, Tangerang sendiri berkonsep boarding school . Biasanya konsep sekolah ini mengintegrasikan dengan nilai-nilai keagamaan Islam, maka dikenal Islamic Boarding School. Sebagai contoh, Pesantren Gontor dengan boardingnya, telah berhasil mendidik para santrinya untuk bisa mengajar. Yaitu dikenal dengan santri mengabdi(  pengabdian). Walaupun yang mengajar santri, tetap saja image dan persepsi masyarakat terhadap pesantren Gontor memiliki nilai yang baik dimasyarakat. Ini menunjukan karena sistem sudah bagus, maka proses pembelajaran pesantren berjalan dengan baik.

Lulusan pendidikan pesantren berbeda dengan lulusan pesantren Gontor Ponorogo. Lulusan dari lembaga pendidikan ini selain menguasai tata bahasa Arab dengan baik, juga menguasai cara menggunakannya dalam tulisan dan percakapan. Mereka begitu baik dalam menyusun kalimat bahasa Arab, dan berkomunikasi dengan bahasa Arab.[1]

Persoalan yang dihadapi oleh lembaga yang berkonsep boarding tidak terlepas dari adanya konsep pengelolaan yang masih sangat kurang, atau standarisasi boarding itu sendiri belum ada. Sebagai gambaran proses boarding misalnya; pertama, jadwal pelajaran yang penuh disekolah bagi siswa membuat siswa merasa jenuh saat kembali ke asrama, kedua, asrama bagi siswa berimage untuk istirahat, ketiga, kekurangan tenaga SDM boarding yang capable. Adapun proses perjalanan boarding bagi masyarakat membawa image tersendiri ada baik buruknya,  masih kurangnya minat masyarakat menitipkan anaknya ke sekolah berkonsep boarding karena terkesan mahal tetapi sisi pengelolaan belum baik.  Inilah tantangan baru dalam dunia pendidikan yang harus digarap agar adanya konsep dan suasana baru pembelajaran terutama pendidikan karakter.

            Konsep pendidikan Rumah Tahfidz adalah miniatur pesantren yang memfokuskan siswa untuk menghafal al-Qur’an. Dengan konsep semua siswa menginap dalam satu rumah atau asrama pendidikan dengan menggunakan satu konsep atau methode yang dikenal “Daqu Methode-Methode Daarul Qur’an”, tetapi semua siswa bersekolah diluar Rumah tahfidz. Bagi yang sekolah di SD maka bersekolah di SD, siswa SMP ataupun SMA juga demikian, ia bersekolah di sekolah yang terdekat atau menjadi pilihannya. Dengan sistem boarding atau asrama pendidikan seperti ini diharapkan setiap siswa mampu belajar mandiri, memiliki kompetensi dan potensi yang berbeda dengan siswa yang lain terutama mampu menghafalkan al-Qur’an 30 juz.

Padahal seharusnya, lembaga pendidikan apapun yang berkeinginan”memanusiakan manusia”harus ditopang oleh SDM(guru) yang berkualitas.   Apalagi dalam pengajaran al-Qur’an. Sebagai bentuk manifestasi dan transfer keilmuan yang bersifat kenabian harus didukung dengan penguasaan keilmuan yang holistik, dinamis dan terintegrasi. Sehingga, ilmu yang diajarkan sesuai dengan silah-silah kenabian yang formal dan shalih.

Guru memang bukan faktor tunggal, tetapi fakta menunjukan bahwa guru adalah faktor yang determinan. Penekanan akan arti dan peranan guru ini didasarkan kepada realitas yang sering kurang sesuai dengan harapan.[2]    

Berdasarkan observasi dan pengamatan yang penulis lakukan ditemukan, bahwa sebagian besar guru(ustadz) yang mengajar tahfidz al-Qur’an di Rumah Tahfidz hanya dipimpin oleh seorang Hafidz/hafidzah dibantu oleh beberapa guru(ustadz) yang lain yang masih proses menghafal al-Qur’an, para guru(ustadz) banyak yang berlatar non pendidikan pesantren bahkan hanya tamat SD, sedangkan santrinya ada yang disekolah SD,SMP dan SMA. Setiap guru(Ustadz) membimbing siswa(santri) sebanyak 10 hingga 15 dengan perbandingan 1:15. Bahkan di Palangkaraya diketahui 1 guru membimbing 30 santri.  Dengan padatnya jadwal menghafal al-Qur’an bagi siswa di boarding, tetapi mengapa prestasi dan karakter siswa di sekolah menunjukkan  prilaku yang baik dan memilki peringkat yang sangat memuaskan.

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut maka peneliti tertarik untuk mendeskripsikan Manajemen sistem pengelolaan boarding Rumah Tahfidz dalam meningkatkan karakter & prestasi siswa di sekolah dalam bentuk tesis, sebagai penelitian.

 

B.   Fokus Penelitian

Dengan melihat isu permasalahan seperti yang dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan masalah pokok yang akan menjadi focus dan pembahasan dalam penelitian ini adalah bagaimana Manajemen sistem pengelolaan boarding Rumah Tahfidz dalam meningkatkan prestasi dan karakter siswa di sekolah.

Berdasarkan fokus masalah tersebut diatas, maka dalam penelitian ini diajukan pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1.      Bagaimana kualitas guru/Ustadz di Rumah Tahfidz se-Kaltengsel?

2.      Bagaimana pengelola Rumah Tahfidz dalam meningkatkan pembinaan guru/ustadz di Rumah Tahfidz?

3.   Bagaimana prestasi siswa(santri) di setiap sekolahnya?

4.   Bagaimana  peran pengelola dan guru Rumah Tahfidz dalam meningkatkan prestasi  siswa di sekolah ?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui manajemen sistem pengelolaan Rumah Tahfidz dalam meningkatkan prestasi dan karakter siswa Rumah Tahfidz terhadap prestasi santri di setiap sekolah  yang berkaitan dengan kegiatan menghafal al-Qur’an dengan konsep kompetensi siswa(santri) dan manajemen boarding.

Sedangkan tujuan secara khusus adalah sebagai berikut:

1.      Mengetahui model cara belajar siswa(santri) di Rumah tahfidz?

2.    Mengetahui sistem  pengelola Rumah Tahfidz  dalam meningkatkan kualitas guru tahfidz?

3.    Mengetahui prestasi siswa di sekolah?

 

 

Hifzhul Qur’an : (Pengertian, Sejarah, Keutamaan dan Metode)

Aug 2, ’10 7:36 PM
untuk semuanya

 

I. MUKADDIMAH

Manusia adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah swt yang terdiri dari ruh dan jasad serta dikaruniai akal (QS. 17:36), serta Allah muliakan manusia dengan tugas ibadah (QS. 51:56) dan kedudukan sebagai khalifah di muka bumi (QS. 2:30).

Agar manusia mampu melaksanakan 2 tugas mulia tersebut maka Allah swt memberikan tuntunan berupa Al Qur’an dan sunnah Nabi-Nya (QS. 33:36). Jika manusia berpegang teguh kepada keduanya, maka ia akan meraih kemulkiaan dunia dan akhirat.

Memahami hal itu, maka memperkenalkan dan mengakrabkan Al Qur’an sejak dini menjadi sebuah keniscayaan, karena semakin dini seorang manusia dikenalkan dan diakrabkan pada Al Qur’an maka harapan meraih kesuksesan itu semakin besar, insya Allah. Hal ini sudah dicontohkan oleh Rasulullah saw dan para generasi salafush shalih. Setelah Rasul saw menerima nubuwah, maka yang pertama kali didakwahi untuk diperkenalkan dengan Al Qur’an adalah Ali bin Abi Thalib ra., setelah sebelumnya mendakwahi istrinya, Khadijah ra. Hal ini menyiratkan 2 hal :

1. Memperkenalkan Al Qur’an sejak awal kepada keluarga terdekat untuk mengkondisikan keluarga dalam nuansa Qurani.
2. Meperkenalkan Al Qur’an kepada manusia sejak dini akan membuat peluang muncunya generasi Qur’ani semakin besar, bi idznillah. Karena hakikatnya manusia terlahir dalam keadaan fitrah dan Al Qur’an lah kitabullah yang mampu memberi tuntunan pemanfaatan karakter fitrahnya seorang manusia. Ini pula yang terjadi kepada Mush’ab bin Umair serta para shahabat belia lainnya yang kemudian pola ini dilanjutkan oleh generasi berikutnya hingga muncullah orang-orang sekaliber Muhammad Al Fatih, Ibnu Sina, Al Khwarizmi, Banu Musa bersaudara, Al Idrisi, Imam Syafi’I, Ibnu Taimiyah, Hasan Al Banna, Keluarga Quthb, bahkan dalam skala sejarah negeri ini, yaitu Indonesia, mampu memunculkan tokoh ulama pejuang sekaliber Jendral Soedirman, Pangeran Diponegoro dan tokoh-tokoh luar biasa lainnya yang kesuksesannya tercatat dalam tinta emas peradaban.
Wajar jika Rasul saw pernah memerintahkan ummatnya agar mengajarkan 3 hal kepada anak-anaknya, yaitu, “Ajarkan mencintai Nabinya, ajarakan mencintai keluarga Nabi dan ajarkan Al Qur’an”.

II. PENGERTIAN AL HIFZH (MENGHAFAL)

Secara bahasa/etimologi Al Hifzh bermakna selalu ingat dan sedikit lupa. Hafizh (Penghafal) adalah orang yang menghafal dengan cermat dan termasuk sedereta kaum yang menghafal. Al Hifzh juga bermakna memelihara, menjaga, menahan diri, ataupun terangkat. Dalam kaitan menghafal Al Qur’an, maka harus memperhatikan 3 unsur pokok, yaitu :

1. Menghayati bentuk-bentuk visual sehingga bisa diingat kembali meski tanpa melihat mushaf.
2. Membacanya secara rutin ayat-ayat yang dihafalkannya.
3. Mengingat-ingat ayat-ayat yang dihafalkannya.

Secara Istilah/terminologi, pengertian Al Hifzh sebenarnya tidak berbeda dengan pengertian secara bahasa/etimologi, tetapi ada dua hal yang secara prinsip membedakan seorang Penghafal Al Qur’an dengan penghafal hadits, syair, hikmah, tamsil ataupun lainnya, yaitu :

1. Penghafal Al Qur’an dituntut untuk menghafal secara keseluruhan baik hafalan maupun ketelitiannya. Karena itu tidaklah dikatakan Al Hafizh orang yang menghafal setengahnya atau dua pertiganya atau kurang sedikit dari 30 Juz dan tidak menyempurnakannya. Dan hendaklah hafalannya dalam keadaan cermat dan teliti.
2. Menekuni, merutinkan dan mencurahkan segenap tenaga untuk melindungi hafalannya dari kelupaan.

III. KILAS SEJARAH PROSES PENJAGAAN AL QURAN

Salah satu keistimewaan Kitab suci Al Quran diantaranya adalah mudah dihafal. Hal ini terjadi sejak zaman Nabi saw masih hidup bahkan sampai sekarang dan insya Allah akan terus berlangsung sebelum hari kiamat tiba. Hafalan Al Qur’an merupakan salah satu tolok ukur keimanan dan keilmuan seorang mu’min. Allah swt berfirman dalam QS. Al Ankabuut : 49
“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zhalim.”

Rasulullah saw adalah seorang Hafizh yang pertama kali dalam sejarah ummat ini. Beliau saw adalah imam para hufazh, penghulu para ahli Qiro’ah. Kemudian para shahabat ra banyak yang langsung bertalaqqi kepada Nabi saw, diantaranya :

1. Utsman bin Affan ra
2. Ali bin Abi Thalib ra
3. Ubay bin Ka’ab ra
4. Abdullah bin Mas’ud ra
5. Zaid bin Tsabit bin Dhahak ra
6. Abu Musa Al Asy’ari ra
7. Abu Darda ra

Menurut Imam Adz Dzahabi, merekalah para hufazh semasa Rasul saw masih hidup. Kepada merekalah sanad-sanad Imam Qira’ah sampai ke tangan kita. Begitu pula banyak para shahabiat yang juga penghafal Qur’an, salah satunya adalah Ummu Waraqah binti Abdullah bin Harits yang digelari Nabi saw. dengan Asy Syahidah. Di kalangan Tabi’in diantaranya Abu Al Aliyah Ar Rahayi Rafi Ibnu Mahran, Abu Raja Al ‘Atharidi Imran bin Mulhan Al Bashari, Hasan bin Abu Hasan Yasar serta masih banyak lagi lainnya.

Dengan pola yang mutawatir seperti inilah Al Qur’an diwariskan dari generasi ke generasi. Walau zaman berganti, namun proses pewarisan seperti ini tetap terpelihara, bi idznillah.

IV. KEUTAMAAN HIFZHUL QUR’AN

1. Bernilai ibadah dimana pahalanya dihitung dari tiap huruf yang dibaca
Dari Ibnu Mas’ud ra, Rasulullah bersabda, ” Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka akan mendapat hasanat dan tiap hasanat mempunyai pahala berlipat 10 kali. Saya tidak berkata Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dn Mim satu huruf.” (HR Tirmidzi)

2. Menjadi ruh penggerak kemajuan kehidupan manusia, jika dibaca dan ditadabburi
“Dan Demikianlah kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”

3. Ciri orang-orang yang berilmu dan tolok ukur keimanan
Saat Al Qur’an dihafalkan, maka ayat-ayat yang dibaca dipindahkan dari tulisan ke dalam dada. Hal ini merupakan cirri orang-orang yang diberi ilmu dan merupakan tolok ukur keimanan dalam hati seseorang.
“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang zalim” (QS. Al Ankabuut : 49)

4. Sebaik-baik amal
Rasulullah saw. bersabda : “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan Al Qur’an” (HR. Bukhari dari Utsman bin Affan).

5. Akan mendapat rahmat dan kasih sayang dari Allah SWT
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai 2 ahli diantara manusia”. Sahabat bertanya, ”Siapakah mereka itu wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Ahli Al-Qur’an adalah ahli Allah, dan orang-Nya khusus.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, Hadits Hasan)

6. Al-Qur’an akan menjadi penolong dan memberi syafaat di hari kiamat
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Al-Qur’an bertemu pembacanya pada hari kiamat saat kuburannya dikuak, dalam rupa seorang laki-laki yang pucat. Dia (Al-Qur’an) bertanya, “apakah engkau mengenalku? Dia menjawab, “aku tidak mengenalmu!”. Al-Qur’an berkata, “Aku adalah temanmu, Al-Qur’an, yang membuatmu kehausan pada siang hari yang panas dan membuatmu terjaga pada malam hari. Sesungguhnya pedagang itu mengharapkan hasil dagangannya, dan sesungguhnya pada hari ini aku adalah milikmu dari hasil seluruh perdaganganmu, lalu dia memberikan hak milik orang itu Al-Qur’an dengan tangan kanan dan memberikan keabadian dengan tangan kirinya, lalu di atas kepalanya disematkan mahkota yang berwibawa, sedangkan Al-Qur’an mengenakan 2 pakaian yang tidak kuat disangga oleh dunia. Kedua pakaian ini bertanya, “Karena apa kami engkau kenakan?”. Ada yang menjawab: “Karena peranan Al-Qur’an. Kemudian dikatakan kepada orang itu,”Bacalah sambil naik ketingkatan-tingkatan syurga dan biliknya, maka dia naik sesuai dengan apa yang dibacanya, baik baca dengan cepat, maupun dengan tartil.” (HR Ahmad).

Dari Abu Umamah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat, sebagai pembela pada orang yang mempelajari dan mentaatinya.” (HR Muslim).

Dari An Nawas bin Sam’an, Rasulullah SAW bersabda, ”Pada hari kiamat akan didatangkan Al-Qur’an dan orang-orang yang mempraktekan di dunia, didahului oleh surah Al Baqarah dan Ali Imran yang akan membela dan mempertahankan orang-orang yang mentaatinya.” (HR. Muslim)

7. Ditempatkan bersama para malaikat
Dari Aisyah ra, Raslullah SAW bersabda, ”Orang yang mahir dalam membaca Al-Qur’an akan berkumpul para malaikat yang mulia-mulia lagi taat. Sedang siapa orang yang megap-megap dan berat jika membaca Al-Qur’an, mendapat pahala 2 kali lipat.” (HR Bukhari, Muslim)

8. Mendapat rahmat dan sakinah dari Allah swt
Dari Al Barra bin Azib RA, “ Ada seorang membaca surat Al Kahfi sedang tidak jauh dari tempatnya, ada kuda yang terikat dengan tali kanan kiri, tiba-tiba orang itu diliputi oleh cahaya yang selalu mendekat kepadanya, sedang kuda itu lari ketakutan. Dan pada pagi hari ia datang memberi tahu kejadian itu kepada nabi SAW, maka bersabda nabi SAW, ”Itulah ketenangan (rahmat) yang telah turun untuk bacaan Al-Qur’an itu.” (HR Bukhari dan Muslim).

“Tidak ada satu kaum yang mereka sedang berdzikir kepada Allah, kecuali para malaikat akan mengitarinya, dan rahmat Allah akan tercurah kepadanya, dan sakinah (kedamaian) akan turun di atasnya, dan Allah akan sebutkan mereka pada malaikat yang ada di sisi-Nya. (HR. At Tirmidzi dan Ibn Majah dari Abu Hurairah dan Abu Said).

9. Aroma orang beriman
Sabda Nabi saw. : “Perumpamaan orang beriman yang membaca Al Qur’an adalah bagaikan buah utrujah, oromanya harum dan rasanya nikmat…..”

10. Diangkat derajatnya oleh Allah swt di dunia
“Sesungguhnya Allah akan mengangkat suatu kaum dengan kitab ini dan akan menjatuhkannya dengan kitab ini pula” (HR Muslim dari Umar bin Khatthab).

11. Menghidupkan hati
Dari Ibn Abbas ra berkata : Rasulullah saw. bersabda : “Sesungguhnya orang yang di hatinya tidak ada sesuatupun dari Al Qur’an, maka ia bagaikan rumah kosong. (HR At Tirmidzi).

12. Seorang Ahlul Qur’an adalah orang yang dianugerahi nikmat Rabbani
“Tidak boleh seseorang berkeinginan kecuali dalam dua perkara, menginginkan seseorang yang diajarkan oleh Allah kepadanya Al Qur’an kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, sehingga tetangganya mendengar bacaannya, kemudian ia berkata, ‘Andaikan aku diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku dapat berbuat sebagaimana si fulan berbuat” (HR. Bukhari)

Bahkan nikmat mampu menghafal Al Qur’an sama dengan nikmat kenabian, bedanya ia tidak mendapatkan wahyu. Rasul saw. Bersabda, “Barangsiapa yang membaca (hafal) Al Qur’an, maka sungguh dirinya telah menaiki derajat kenabian, hanya saja tidak diwahyukan kepadanya.” (HR. Hakim)

13. Penghafal Qur’an mendapatkan tasyrif nabawi/penghargaan khusus dari Nabi saw.
Di antara penghargaan yang pernah diberikan Nabi SAW kepada para sahabat penghafal Al Qur’an adalah perhatian kepada para syuhada Uhud yang hafizh Al Qur’an. Rasul saw mendahulukan pemakamannya.

“Adalah nabi mengumpulkan di antara dua orang syuhada Uhud kemudian beliau bersabda, “Manakah di antara keduanya yang lebih banyak hafal Al Qur’an, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahat.” (HR. Bukhari).

Pada kesempatan lain, Nabi saw. memberikan amanat kepada para Huffazhul Qur’an dengan mengangkatnya sebagai pemimpin delegasi. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata, “Telah mengutus Rasulullah saw. sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada Shahabi yang paling muda usianya, beliau bertanya, “Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab,”Aku hafal surat ini..surat ini.. dan surat Al Baqarah.” Benarkah kamu hafal surat Al Baqarah?” Tanya Nabi lagi. Shahabi menjawab, “Benar.”. Nabi bersabda, “Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.” (HR. At Tirmidzi dan An Nasaa’i).
Kepada orang yang hafal Al Qur’an, Rasul saw menetapkan berhak menjadi imam shalat berjama’ah. Rasulullah saw. bersabda, “Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya.” (HR. Muslim).

14. Menghormati seorang hafizh Al Qur’an berarti mengagungkan Allah
“Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah menghormati orang tua yang muslim, penghafal Al Qur’an yang tidak melampaui batas (di dalam mengamalkan dan memahaminya) dan tidak menjauhinya (enggan membaca danmengamalkannya) dan Penguasa yang adil.” (HR. Abu Dawud).

15. Ditinggikan derajatnya oleh Allah swt di surga
Rasulullah SAW bersabda: Dikatakan kepada orang yang berteman dengan Al-Qur’an, “Bacalah dan bacalah sekali lagi serta bacalah dengan tartil, seperti yang dilakukan di dunia, karena manzilah-mu terletak di akhir ayat yang engkau baca. “ (HR Tirmidzi)

16. Mendapatkan taajul karomah/mahkota kehormatan dari Allah swt. di akhirat
Mereka akan dipanggil, “Di mana orang-orang yang tidak terlena oleh menggembala kambing dari membaca kitabku?”. Maka berdirilah mereka dan dipakaikan kepada salah seorang mereka mahkota kemuliaan, diberikan kepadanya kesuksesan dengan tangan kanan dan kekekalan dengan tangan kirinya”. (HR. Ath Thabrani)

17. Kedua orang tuanya akan mendapat kemuliaan di akhirat
“…maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaiakan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Qur’an…” (HR. Al Hakim).

18. Perniagaan atau bisnisnya akan selalu untung dan tidak akan pernah rugi
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri” (QS. Faathir : 29-30)

V. METODE MENGHAFAL QUR’AN DAN PERSIAPANNYA

Sebelum memulai menghafal Al Qur’an, ada beberapa persiapan yang harus diperhatikan, yaitu :
1. Ikhlas dan memiliki azzam.
2. Perasaan mengagungkan Al Qur’an.
3. Memiliki Ihtimam/perhatian terhadap Al Qur’an serta ihtimam dalam proses menghafalnya.
4. Menetapkan target.
5. Mengatur waktu dengan baik.
6. Menguasai metode dalam menghafal Al Qur’an.
7. Memiliki bacaan yang baik.
8. Memiliki pembimbing dan bi’ah dalam menghafal Al Qur’an.
9. Satu Mushaf, maksudnya jenis atau karakter mushaf yang dipakai untuk menghafal Al Qur’an tidak berubah.
10. Memperhatikan, mencatat dan teliti terhadap ayat-ayat yang gharib atau mutasyabihat.
11. Sabar dalam menghadapi masyaqat/halangan dalam menghafal Al Qur’an.
12. Meninggalkan maksiat.
13. Senantiasa memperbanyak amal nawafil dan berdo’a.

Metode menghafal Al Qur’an secara umum yang lazim dipakai oleh para penghafal Qur’an adalah:

1. الحفظ قبل التكرار
Yaitu metode membaca berulang-ulang lebih dahulu ayat atau surat yang akan dihafalkan.

2. الحفظ قبل الإستماع
Yaitu metode mendengarkan berulang-ulang lebih dahulu ayat atau surat yang akan dihafalkan.

3. الحفظ قبل الفهم
Yaitu metode memahami ayat atau surat yang akan dihafalkan. Untuk memahaminya akan lebih bagus jika menggunakan tafsir. Kalaupun hanya menggunakan terjemahan, maka hal itupun tidak masalah jika mampu membantu memahami ayat atau surat yang akan dihafal.

4. الحفظ قبل التدوين
Yaitu metode menuliskan lebih dahulu ayat atau surat yang akan dihafal.

Salah satu “penyakit” seorang yang sedang menghafal Al Qur’an adalah malas melakukan muroja’ah. Padahal muroja’ah adalah bagian dari proses menghafal itu sendiri. Beberapa hal terkait muroja’ah diantaranya :

1. Muroja’ah harian, yaitu minimal sebelum tidur dengan didawamkan tiap hari. Kemudian ayat atau surat yang sudah dihafal digunakan atau dipakai dalam Qiyamullail.
2. Muroja’ah mingguan (Yaumul Qur’an mingguan), yaitu mempunyai waktu satu hari dalam satu minggu untuk melakukan muroja’ah hafalan yang kuantitasnya lebih banyak dari muroja’ah harian.
3. Muroja’ah bulanan (Yaumul Qur’an bulanan), yaitu mempunyai waktu satu sampai 3 hari untuk melakukan muroja’ah hafalan yang kuantitasnya lebih banyak dari muroja’ah bulanan.
4. Muroja’ah tahunan (Yaumul Qur’an tahunan), yaitu memuroja’ah seluruh hafalan yang dimiliki dalam satu waktu (biasanya antara 1-7 hari, tergantung jumlah hafalan yang dimiliki). Biasanya para hufazh melaksanakan muroja’ah tahunan ini di setiap bulan ramadhan. Kebetulan, kalau penulis secara pribadi memiliki jadwal muroja’ah tahunan biasanya antara bulan rajab dan sya’ban.
5. Selain program muroja’ah rutin di atas, maka untuk “memperkuat dan mencek hafalan”, maka bisa juga dengan cara ditasmi’kan atau musabaqah (tapi bukan diniatkan untuk populer atau jadi juara, na’udzu billahi minasy syaithon).

Ada beberapa hal penting yang harus diketahui yang bisa menghalangi atau akan menjadi kendala dalam menghafal Al Qur’an, yaitu :
1. Melakukan maksiat kepada Allah swt.
2. Cenderung dengan kehidupan dunia.
3. Tidak punya pembimbing dan bi’ah.
4. Kurang sabar.
5. Hafalan tidak dimuroja’ah/diulang.

VI. METODE MENGHAFAL AL QUR’AN UNTUK ANAK-ANAK

Secara umum metode hifzhul Qur’an untuk anak-anak sama dengan metode orang dewasa, hanya ada beberapa hal yang bersifat spesifik yang harus diperhatikan oleh setiap guru atau orang tua yang mengajarkan hafalan Al Qur’an kepada anak-anak, yaitu :

1. Kefasihan bicara anak secara umum
Hal ini akan berpengaruh kepada pengucapan lafazh ayat atau surat yang dihafal. Maka setiap pembimbing Al Qur’an harus mengajarkan sesuai dengan kemampuan kefasihan anak pada umumnya dan memberikan pengecualian pada beberapa anak tertentu.

2. Kemampuan anak dalam membaca Al Qur’an
Hal ini akan menentukan salah satu dari 2 pola dasar talaqqi yang dilakukan seorang pembimbing Al Qur’an, apakah akan menggunakan pola talaqqi bin nazhor atau talaqqi bil ghaib.

3. Karakteristik usia anak
Hal ini akan menentukan apakah dilakukan seorang pembimbing Al Qur’an akan menggunakan pendekatan menghafal sambil bermain (cerita asbabun nuzul, cerita rekaan, gambar ayat/surat, memperdengarkan murottal) menghafal secara fokus atau perpaduan dari keduanya.

4. Target yang diharapkan
Hal ini akan menentukan apakah seorang anak akan dibentuk “pola habbitualnya/pembiasaan dan kualitas hafalannya” sehingga anak tidak akan merasa dipaksa menghafal karena dikejar target kuantitatif atau sebaliknya.

5. Menggunakan rumus irama murottal yang sederhana (maksimal 4 nada)
Hal ini akan lebih mempercepat proses menghafal, menjadikan hafalan menjadi lebih enak dibaca dan didengarkan. Rumus irama murottal bisa diambil dari irama standar “Naghomul Qur’an”. Jika anak sudah menguasai rumus irama sederhana ini, maka anak boleh mengembangkan sendiri atau mengikuti pola murottal Qory pilihannya.
Sebagai salah satu alternatif irama murottal sederhana ini, bisa di download dari facebook saya di bagian music.

6. Memberikan pujian dan hadiah
Hal ini akan menambah motivasi anak untuk menghafal Al Qur’an bahkan bisa membuatnya melakukan akselerasi dalam menghafal.

Selain ziyadah/menambah hafalan maka harus pula diperhatikan agenda murojaah/mengulang hafalan. Untuk anak-anak, yaitu :

1. Minimal dilakukan 1 bulan sekali, idealnya seminggu sekali.
2. Tasmi secara bergilir
3. Melanjutkan ayat dan menebak surat
4. Musabaqah
5. Bercerita
6. Tadabbur ayat kauniyyah, dll.

VII. KHATIMAH

Jika kita kembali merenungkan hakikat kehidupan kita sebagai manusia, sebagai anak, sebagai orang tua, sebagai pendidik maka seluruh muara cita-cita kita adalah “kebahagiaan dan kesuksesan”. Namun sayang, sebagian besar manusia salah memaknai hakikat kebahagiaan dan kesuksesan karena tidak menjadikan Al Qur’an sebagai panduannya.
Sebagai orang tua, maka kebahagiaan tertinggi adalah saat anak-anaknya mampu membuat derajatnya mulia di sisi Allah swt dan do’a anak-anaknya mampu mengantarkannya mendapatkan rahmat Allah swt. Dan anak yang seperti itu tidak akan kita dapatkan jika anak kita jauh dari Al Qur’an.

Sebagai anak, kebahagiaan terbesar adalah saat mampu menjadikan kedua orang tuanya mendapatkan rahmat Allah karena do’a dan amal yang kita lakukan sebagai anak yang shaleh untuk kedua orang tua. Dan kita tidak akan mampu menjadi kebanggan kedua orang tua kalau kita jauh dari Al Qur’an.

Sebagai pendidik, kebahagiaan yang tak ternilai adalah ketika melihat anak didiknya menjadi orang-orang yang mulia dengan ilmu dan amalnya, serta doi’a yang selalu mengalir dari anak didiknya hingga hari penghisaban tiba. Dan anak didik seperti itu hanya muncul dari anak didik yang akrab dengan Al Qur’an.

Sebagai manusia, kita semua akan kembali kepada Sang Pemilik. Dan bekal yang kita bawa hanyalah apa yang sudah kita usahakan di dunia. Seluruh upaya kita di dunia akan menjadi bekal yang membahagiakan manakala aktivitas kita di dunia senantiasa dibingkai nilai-nilai Al Qur’an.

Berinteraksi bersama Al Qur’an berarti kunci sukses dunia dan akhirat. Membekali Al Qur’an sejak dini kepada anak-anak kita serta anak didik kita berarti member fondasi kesuksesan itu sendiri. Karena itu, mari kita ajarkan Al Qur’an kepada anak-anak sejak usia dini. Jika selama ini kita menganggap bahwa mengajar hafalan Al Qur’an kepada anak adalah sesuatu yang sulit, maka dengan mengetahui pola yang tepat maka kesulitan yang muncul akan tereduksi dan kita semua harus meyakini bahwa Allah swt tidak akan mempersulit hamba-Nya, sebagaimana janji-Nya dalam QS. Thoha : 2

“Kami tidak menurunkan Al Quran Ini kepadamu agar kamu menjadi susah”

Demikianlah, semoga risalah singkat ini sedikitnya mampu membuka cakrawala pandang tentang menghafal Al Qur’an. Satu hal yang menjadi catatan adalah “Menghafal Qur’an itu mudah, bi idznillah”

“Ya Allah, jadikan kami, anak-anak kami, dan keluarga kami sebagai penghafal Al Qur’an, jadikan kami orang-orang yang mampu mengambil manfaat dari Al Qur’an dan kelezatan mendengar ucapan-Nya, tunduk kepada perintah-perintah dan larangan-larangan yang ada di dalamnya, dan jadikan kami orang-orang yang beruntung ketika selesai khatam Al Qur’an. Allahumma amin”

 


1 Komentar

  1. desi mengatakan:

    boleh saya tahu referensi yang digunkan dalam tulisan di-ats?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: