Personal Blog Ihsan Fauzi Rahman, SH

Beranda » Uncategorized » Yang mana yang seharusnya

Yang mana yang seharusnya

Follow me on Twitter

Yang mana yang seharusnya

by Ihsan Fauzi Rahman on Monday, March 7, 2011 at 8:53pm

Hari ini terlihat miris, mahasiswa sebagai agent of change beralih posisi menjadi agen kemunduran bangsa. Idealisme yang seharusnya menjadi cahaya dalam kehidupan masyarakat, pembuka makna kehidupan menjadi lebih baik, tetapi semua itu telah menghilang, memupuk kegelapan dalam sunyinya lingkaran kebobrokan sistem yang dinikmati. Walaupun pahit, tapi ternyata itu menjadi terbudayakan oleh pantulan westernisasi dan globalisasi tanpa arah yang jelas.

Kemiskinan sebagai gambaran produk kelemahan sang agen untuk mengawal perubahan, ketidak pedulian para kaum intelektual busuk mengamalkan segala ilmu pengetahuannya, ketidak warasan mantan aktivis dalam menjalankan janji idealnya(dulu membela yang benar, sekarang membela yang bayar), juga anti kritik sang tetua kita yang nyaman dalam ketidak setaraan dalam kemajuan yang ada.

Para elit politik jua menambah pedih dari kepedihan yang diciptakannya, rakyat merana, mereka dengan antusias membahas koalisi-oposisi tanpa makna. Kebobrokan yang saling dilindungi, juga tak sedikit pun ada ketulusan sosial yang tercerminkan seketika mereka menjadi pengabdi rakyat. Pengusaha melenggang nikmat bak kuasanya menghuni surga indonesia, mengambil kontrol penuh atas perizinan atas pencurian Sumber Daya Alam nusantara melalui calo-calo elit politik yang sekarang duduk di kursi Wakil Rakyat (baca:Wakil Rampok)

Tapi apalah dikata, mahasiswa terbius dalam kemunafikan identitas dengan berdiam diri, bodoh secara intelektual, dekadensi moral yang terstruktur dan terbudayakan hingga mengakar luar ke semua motif kebaikan. Ada ruang perjuangan, juga tak terhindar dari potensi jual materi pragmatisme. No Money, No Action. Walaupun seberapa sengsara kondisi rakyat kita, seberapa bobroknya cermin rongsok sang kepala pemerintahan, seberapa ingkarnya kaum intelektual, tetaplah mereka aman dalam posisinya. Mahasiswa sudah tak bisa bertahan dalam keberjuangannya. Karena dia lebih nikmat dalam kebiasaan yang disemayamkan perusak sistem, penurun tensi semangat kaum cap intelektual, pengibar bahasa kemunafikan, penyebar perasa kebiadaban yang tersistemkan.

MAHASISWA UINJKT
ini pesan subyektifku, untuk arena cerminan mahasantri juga mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Sebagaimana sempitnya deskripsi gambaran kesengsaraan yang saya tumpahkan, agent of change juga kaum intelektual UIN Jakarta saya yakin mengetahui, juga memahami bahkan merasakan semua ke_merana_an kondisi Bumi nusantara ini, saya yakin, mereka menerima lautan informasi kemunafikan dan kebohongan semua peran yang berkuasa dan berpartisipasi dalam menyengsarakan rakyat ini.

Rasanya naif jika saya sebutkan mahasiswa yang tidak tahu akan realitas ini, yang ada mereka terlelap dalam kebobrokan sosial, antipati terhadap keshalehan sosial, tiada kepedulian, tiada semangat mengobar perubahan (terlalu jauh rasanya), juga terlihat terlalu semangat mengobar individualisme kepicikan dan kerakusan. Inilah kenyataannya, pura-pura tak mendengar, menutup mata dari kenyataan, juga memejamkan hati dalam kesetiaan bangsa dalam kemunduran di segala bidang ini.

Wajib dipelajari, semua pelajaran besar dalam bangku kuliah, dari literatur arab yang tak berharakat, sampai huruf latin juga aksara inggris yang makin mudah dipelajari juga dipraktekan dalam lisan, tapi mengalami nihilisme dalam praktek sosial, lahan lingkungan yang seharusnya ilmu itu dimanfa’atkan. Ilmu itu ternyata membuahkan hasil, hasil ketidakbermanfaatan sosial. Sya rasa, Mahasantri di UIN tidak pernah kekurangan asupan gizi informasi, bahkan lebih banyak menguras uang negara daripada rakyat yang membutuhkan. Entah itu lupa, entah itu tidak tahu, Entah itu tak sadar, Entah itu memang sengaja tidak mau menyadarinya.

Ibaratnya, Mahasiswa UIN mempunyai 2 modal penting untuk memutuskan masa depannya, pengetahuan agama, juga pengetahuan umum. gambaran nantinyta, Ada dokter santri, ada insinyur santri, ada Bidan santri, juga profesi dengan lekatan gelar santri, karena tak jauh dari literatur arab dari kepesantrenan. Skenarionya ada keseimbangan dunia dan akherat (seharusnya). konsep yang terlihat sempurna, hanyalah cita dan asa, tak ada harganya dengan realita bangsa hari ini.

dalam pikirannya, Nikmati pragmatisme gerakan, resapi kemudahan dan kesempurnaan hedonisme, hilangkan budaya intelektualisme, hilangkan akar idealisme, rubah konsep agent of change, jadikan agen kebobrokan, tanamkan kerakusan dan kemunafikan sosial, itulah gambarannya, terlalu lama bangasa ini terjebak dalam kebiadaban sang pelaku perubahan, bukan membaik, tapi mempersulit, bukan menghidupi tapi menyatu mati….

Apa yang salah dari semua ini, apa yang benar dari semua ini, apa salah kenyataan yang tak seharusnya kita pedulikan, ataukah salah pola budaya yang kita nikmati sekarang?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: