Personal Blog Ihsan Fauzi Rahman, SH

Beranda » Uncategorized » diplomasi rakyat jelata dan bule arab

diplomasi rakyat jelata dan bule arab

Follow me on Twitter

diplomasi rakyat jelata dan bule arab

by Ihsan Fauzi Rahman on Sunday, September 11, 2011 at 11:11am
Sabtu, 10 september
Perjalanan bis jurusan jakarta-cianjur, parung indah nama yang terpampang di badan bis. Menuju cianjur dengan rute tol ciawi-cisarua dan puncak.
Perjalanan indah, disertai macet merayap total, kebiasaan buruk yang tidak bisa dihindari, mau tak mau, itulah yang harus dinikmati.
Siang hari baru ku sampai di cisarua, bogor. Didepanku merengek 2 orang anak kecil, dengan 1 ibu yang berusaha sangat keras untuk menghentikan tangisan kebiasaan dari anaknya.
Beberapa saat kemudian, pintu bis dibuka, ada 3 bule keturunan arab, turis tepatnya.
Sang kondektur bertanya kepada mereka dengan bahasa sunda,
kemana?cianjur?, sahut tanpa dia tau mereka ngerti atau tidak bahasa dia.
Ternyata benar, pembicaraan g nyambung, si turis membalas dengan bahasa asing, arab pasar kayanya. Salah satu bilang “kam?kam?”
Kendek menjawab lagi
“Kamana?ka cianjur?ayo naik?”
Senyum ku melihat, komunikan dan komunikator menggunakan bahasa yang tidak dimengerti kedua belah pihak, informasi dan kebutuhan yang diajukanpun tiada difahami oleh kedua belah pihak.
Tanpa panjang ucap, trio arab itu masuk saja ke bis, duduk di kursi yang kosong, dan mencoba menyapa semua orang di bis, confident, watados, dan semua orang tidak tahu kemana tujuan trio arabic ini. Supir dan kendek pun tak tahu. Yang penting trayeknya jakarta-cianjur.
Salah satu bule arab itu melihat anak kecil yang nangis didepan tempat duduk ku. Tanpa panjang lebar tanggap, dia mengeluarkan selembar uang biru, 50 ribu. Dan menjulurkan tangannya ke anak itu, sembari memberikan uangnya, tanpa kata terucap si bule menjulurkan tangannya ke anak kecil itu, anak kecil yang ada dalam pangkuannya. Si ibu menolaknya, dan anak itu menunduk ketakutan. “Aduh, makasih”,si ibu sambil menangkis tangan si bule itu, sekali lagi, bahasa yang dipakainya tidak tersambung alias tidak sesuai.
Niatan baik si bule, ditolak begitu saja. Mungkin penolakan disebabkan ketidakpercayaan atau syndrom ketakutan pada bule, padahal niatnya baik lho, ngasih duit…
Si bule tidak menyerah, walaupun si ibu nolak dan anaknya ketakutan, nekadnya dia. Uang tersebut dimasukan secara paksa ke kantong depan si bocah, dan si ibu tidak berdaya lagi menolaknya. Si bule mikir, dan merasa aneh. Lalu dia bilang “hadiyyah, hadzihi hadiyyah”, baru si ibu conect dengan ungkapan itu, dan bilang makasih dengan malu_malu, “bu, bilang syukron, itu bahasa arabnya makasih”ku bantu dia untuk berucap, lalu si ibu bilang syukron dengan malu, si bule senyum dengan nikmatnya, lalu keukeulewehan dengan bahasanya, bahasa asing di tengah kebiasaan.
Entah ini miniatur bangsa, atau pemerintah kita lebih bodoh daripada ini. Sikap diplomatik pemerintah kita rasanya tiada jauh dengan sikap si ibu ini. Ketidaktahuan dan ketakutan menerima yang baik dari si asing membuat stagnasi hubungan diplomatis. Bukannya manfaat yang didapat, tapi malah bangsa ini digerogoti piciknya diplomat-diplomat asing, yang hari ini kita dihisap sampai kelaparan dan sengsara.
Sudah saatnya bangsa ini cerdas, banyak tahu dan bisa mengambil kebaikan dalam setiap berdiplomasi dengan bangsa lain. Banyak warna dalam kepentingan berdiplomasi, jangan sampai diplomasi ini meluaskan kelaparan dan memanjangkan kesengsaraan. Berkebalikan dengan konsep silaturahim meluaskan rizki dan memanjangkan umur dalam keberkahan.
Selamat berdiplomasi dengan semua hal dalam kehidupan,,,

Ifr


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: