Personal Blog Ihsan Fauzi Rahman, SH

Beranda » Uncategorized » KUMONE (KUliah MOdal NEkad)

KUMONE (KUliah MOdal NEkad)

Follow me on Twitter

Dengan segala keadaanku di Mu’alimien. TIdak mungkin rasanya untuk melanjutkan studi ke universitas. Biaya Mahal, tiada karpet merah di universitas bagi golongan kismin dan fakir sepertiku. Kata-kata tersebut memundurkan semangat banyak manusia miskin untuk kuliah, namun tidak bagiku. Aku tak berani sedikitpun meraba nyata. Terlalu terbuai dalam dekapan mimpi yang semakin hari semakin meninggi. Semakin banyak yang telah terlihat, semakin sering mimpi itu banyak terkait dan terikat hingga overload terbawa tidur dan ngiggau di alam tidur.

Diri tak bisa tenang. Garis tujuan bagai nur dalam kegelapan, walaupun dalam mimpi. jika sedikit Menghampiri kenyataan pasti terasa sakit, karena nyatanya. Menurut banyak orang, itu tak akan bisa kusanggupi. ILMU HUKUM di JAKARTA, menjadi tujuan awal. Menidurkan mimpi-mimpi yang sebelumnya datang. Datang, kokoh dan merajai sel asa dan harapanku. Sekali lagi, walaupun ku takut untuk menghampiri kenyataan.karena akan menyakiti mimpi.

Aluran waktu terurai cepat dan menuntutku untuk merapikan sikap. Menegaskan jati diri sebagai pencari. Mencoba memulai diri dengan mencari dan mencari. HIngga satu kata yang datang kuanggap sinar demi sinar yang nyata. Walaupun tetap ku masih belum mau melihat kenyataan. Mimpi itu masih ku jaga dalam tempatnya. sembari menyelami pencarian cahaya selanjutnya. satu persatu kurajut benang yang tumpul.hingga terbentuk simpul yang beraturan.membuka alur cerita baru.tentang pencarian yang seru.Walaupun sekali lagi, ku masih takut untuk menghampiri kenyataan itu..

Masa Sekolahku hampir berakhir.bermodalkan benang yang telah kusimpul.penyambung tali mimpi yang ku jaga.entah ke arah mana mimpi ini ku akhiri.karena ku masih mengkhawatirkannya tersimpul maya dalam kenyataanku. Tetap langkah itu bergerak melalui rotasi benang cahaya yang telah ada. Hingga ku sampai pada alam percobaan. Aku masuk kepada Sebuah Test Ujian Masuk Bersama Perguruan Tinggi Negeri, HUKUM di Jakarta sedang kucoba lanjutkan untuk menambal benang itu untuk menyampaikan mimpi pada awal yang melewati kenyataan itu.Dengan penuh harap dan do’a, serta persiapan yang tak sekuat tali simpul orang lain. Mimpi itu tetap hidup, walaupun ternyata soal-soal itu menertawakan kemampuanku yang sangat terbatas ini.

Sebulan selanjutnya, Hasilnya positif benang itu putus dalam ketidaksanggupanku untuk menjadikan mimpi itu sebagai ungkapan kenyataan. Hasilnya tidak lulus.dan aku tak berkecil mimpi. Cahaya yang terbuang kembali kuperbarui, kunyatakan dalam rajutan baru. Mencari simpul baru untuk merajut dan membuat alur baru. Untuk Kuliah HUKUM di JAKARTA. Kucoba.Kusapa tawaran baru untuk pindah ke lain mimpi, Ujian STAN itu menggoda.dengan semua kenyataan yang menggiurkan nyata ku, hingga meniadakan mimpi kokohku.kucoba dan kuikuti semua saran dari teman dan keluargaku.Ujian dengan optimisme tanpa makna.mimpi ku yang kuukir dalam benang itu, kusimpulkan sementara pada ketidakmampuanku konsisten padanya.usahaku, hingga ujian STAN di Senayan berakhir tragis. Mimpi tak jelas itu membuatku tak bisa mengungkiri.hati tak bisa mengira.hasilnya kembali gagal….

Tak jauh dari itu, bangkitku untuk meneguhkan kembali mimpi yang kuhentikan mengalir.HUKUM di Jakarta.Satu persatu ku untaikan baris rapi cahaya yang terbuang. mencari cahaya baru, atas izin ALlah, ada satu jalur yang membuka kesempatan untuk mimpiku menari dalam ruangnya.Walaupun kembali ku takut untuk melihat kenyataan. Karena itu, ini kesempatan terakhir. Sebelum kuhampiri kenyataan dengan menyerah dan mati asa dengan kegagalan. 4 Hari ku mencari.modal untuk berangkat usaha dalam ujian mandiri. 3hari bertarung, antara mimpi dan asaku yang mau mati.

Sembari Menunggu hasil. Coba kutunggu dengan berlaku manfa’at.kuterima pinangan sebuah pondok pesantren di Cileungsi. ku duduk belajar menjadi pembina.sembari menyimpan rapat semua mimpi itu.kalaupun lulus, mimpiku itu belum tentu menjadi nyata. karena kenyataan mulai mengancamku untuk jatuh dalam kenyataan.ketidakmampuan dalam pendanaan.Percuma ku berharap, berhasil dalam ujian. Ku teguhkan sebagian hati untuk terjun dalam dunia baru. Pembinaan pesantren dengan semua keterbatasan dan keterbatasan yang ada pada diriku.

2 bulan berlalu, pengumuman hasil ujian HUKUM di JAKARTA. sambil ku mati rasa pada kenyataannya, coba ku intip hasil yang nantinya semu untukku. masih kusimpan erat-erat dalam lingkungan mimpi yang tak akan terlihat kecuali kembali ku berharap. Dan ternyata. Hasilnya LULUS….

Sedih berbaur rupa dengan senangnya. 1 cahaya besar untuk menghidupi mimpiku. tapi ku harus tau diri.masih tak mungkin ku menggapainya. masih taku untuk sakit jika ku kembali mengungkitnya.

Beberapa hari selanjutnya, mimpi itu bergetar sendiri dalam abunya hati dan nyata. menggerakan diri untuk berkomunikasi dengan semua orang yang dapat membantu. membantu mengeluarkan mimpi dari gelapnya jiwa. Nekad yang tak kusadari telah menjadi perilaku dalam hari-hari itu. Sampai ku berfikiran untuk lari dalam tugasku yang utama.

Musyawarah itupun terjadi, Yayasan, Pondok Pesantren dan aku. Hasilnya memukul mundur kemungkinan. Aku dipersilahkan untuk keluar dari Pondok Pesantren, aku dipaksan jatuh pada kenyataan langsung, setelah mimpi itu bersinar dan langsung tertikam kenyataan yang gelap.

Kondisi keluargaku tak seperti orang banyak. Ada simpanan untuk pendidikan anaknya, ada sisa bahkan peninggalan harta untuk menunjang keinginan semua keluarganya. Keluargaku terbilang pas. Pas untuk makan sehari, sesaat itu juga harus mencari untuk makan di hari kemudian. Aku tak berani melepas permintaan yang menekan keluargaku sendiri. Tak tega rasanya melihat orang tua bersusah payah untuk ditekan dalam zona ketidakamanan hidupnya.

Ku coba cari peluang, ku tebar semua apa yang ku bisa. Sanak keluarga ku lobi, tak apa, walau hanya pinjaman. Sehari waktunya. batas pembayaran. harus ada 2.5 juta. Saat itu, sepeserpun kami tak punya.

Kalaulah meminta bantuan untuk sukarela itu sulit. maka kutumpahkan dalam pencarian dana pinjaman. Nekadku keterlaluan, kuatasnamakan diri sendiri, tidak pada keluarga. janjiku, setelah mimpiku ini nyata, semua hutang akan kujadikan mimpi untuk ku kejar. hingga itu terbayar. Jam 8 Malam, masih belum ada sepeserpun.

Terlelap banyak orang dalam tidurnya. Namun mimpiku memaksa untuk ku selalu mencari. Hingga berujung pada jalan buntuk. Jam 10 malam juga tak kunjung ku dapatkan uang itu. Mimpiku akan berakhir…

Beberapa puluh menit selanjutnya, Paman ku datang, memberi cahaya besar, membuka tabir kemungkinan semua mimpiku. akhirnya, aku dapat pinjaman. Uang wakaf yayasan yang digunakan. karena kebetulan, bapaku yang mengelola tanah yayasan tersebut. Pamanku sebagai ketua. Memberi kesempatan untukku menggunakan uang pembuka mimpi itu.setelah bersilatulfikr, saling bernegosiasi layaknya mereka tau besarnya tarian mimpi ini. bahagia bercampur tak tega. aku bisa mendapat uang pinjaman itu…

Shubuhnya, aku berangkat dari Cianjur tempat ku bermimpi, menuju jakarta tempatku melabuhkan kapal mimpiku. Mengurai mimpi untuk menjadi kenyataan. Walau ku tau JAKARTA dengan dinamikanya, pergaulannya, keganasannya. tapi itu tak sama sekali kutempatkan dalam ruangan fikiran. Biarlah itu jadi perasa mimpi-mimpi baru ku nanti.

KOMUNE, Kuliah Modal Nekad, jadi ujung penuh makna. Ku tau semua resiko. tapi ku mimpikan semua peluang. Allah bersama orang yang nekad untuk kebaikan. ALhamdulillah, hari ini aku kuliah di ILMU HUKUM UIN JAKARTA. walaupun banyak dengan pengalaman nekad. Tapi itulah hidupku. peta perjuangan yang dipenuhi rute nekad. JanjiNya akan berujung manis. karena mimpiku selanjutnya adalah menggapai RidloNya dengan semua ikhtiar yang ku mampu. Fabiidznillah, semua ini terjadi dan teralami sebagai pengalaman hidupku.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: